Identity Crisis

Kekuatan super, kekebalan tubuh, termotivasi untuk melindungi dunia dari kejahatan. Identitas rahasia, dan tampilan yang “oke” dengan segala pakaian super ketat. Hal ini kemudian menjadi “trend” bagi mereka yang dinamakan “super hero”. Siapa yang tidak mengenal Superman, Batman, Captain America, Spiderman, dan nama-nama lainnya yang tindak tanduk kehidupannya menjadi semacam ruh heroism bagi generasinya.

Para pahlawan ini jelas didesain oleh Barat. Selain untuk menghadirkan semacam sosok/figure pahlawan, ternyata ada pula yang digunakan sebagai semacam propaganda bagi sebuah negara. Tengok saja Captain America yang baru-baru ini diangkat ke layar lebar, sebuah simbol patriotisme dalam membela bangsa, tentu dengan bumbu-bumbu laga dan aksi ala Hollywood (kalau tidak ada hal-hal ini mana ada orang yang akan menontonnya :D).

Tapi pertanyaannya, mengapa orang-orang melakukan hal ini (menghadirkan super hero dll)??

Carl Jung, seorang psikolog kenamaan, berpendapat bahwa keberadaan “pahlawan” merupakan sebuah kebutuhan (need) dari masyarakat (society). Semacam keinginan untuk mendapatkan harapan dan mewujudkan keinginan tertentu. Sejenak kita coba merenung, manusia memang terbiasa untuk mengenali istilah “juru selamat” atau “messiah” dari masa ke masa. Ini jelas sesuai dengan kata-kata Carl Jung tadi tentang “need”. Dan produk-produk barat yang kini menjadi sebuah “trend” adalah sebuah pemenuhan kebutuhan akan “inner hero” dalam diri manusia.

Tapi kemudian, apakah sisi emosional manusia tersentuh dengan keberadaan manusia-manusia super itu? Ternyata para produser karakter-karakter heroik tadi sadar betul bahwa yang menjadi kebutuhan manusia hari ini adalah sisi emosionalnya. Sebab tanpa hal itu, jiwa manusia sesungguhnya kosong. Jiwa menggambarkan “siapa” yang ada saat itu. Jiwa berbeda dengan materi yang bisa terukur dan pasti (exact). Ketika sesuatu tidak berjiwa, atau dalam hal ini, seorang manusia tidak menjiwai hidupnya, boleh jadi dia mengalami krisis yang akut. Krisis Identitas (Crisis Identity). Orang-orang yang mengalami kegagalan dalam perkembangan perannya di berbagai lingkup kehidupan, sejatinya telah mengalami Krisis Identitas.

Dalam sebuah lakon, karakter-karakter super ala barat ini ternyata bisa mengalami semacam krisis identitas. Mereka seperti kehilangan arah. Bingung apa yang harus mereka perbuat, sementara tanggung jawab mereka menyangkut nasib banyak orang. DC comic’s (dunianya superman, batman, flash, dkk) telah menerbitkan semacam mini-seri berjudul “Identity Crisis” di tahun 2004. Dan isinya, luar biasa. Sisi tergelap dari manusia coba dikembangkan oleh si penulis, Meltzer, dengan sangat apik (two thumbs up).

Identity Crisis dibuka dengan keadaan moral manusia pasca kejadian 9/11. Sementara di lain pihak, lakon ini membuang peran dari karakter yang oleh banyak fans telah dianggap sebagai “kawan lama”. Cerita ini dibuka dengan kematian dari seorang istri super hero minor bernama Elongated Man secara brutal. Keadaan semakin menjadi-jadi saat para anggota Justice League of America (JLA) menemukan indikasi bahwa kerabat mereka juga menjadi target pembunuhan selanjutnya.

Hmm, by the way, tidak tahu JLA? Ya, coba bayangkan Superman, Batman, Wonder Woman, dan karakter lain terbitan DC comic’s nongkrong-nongkrong di warung kopi. Yah, whatever, semuanya tergabung di sini dan jadilah semacam liga orang-orang super (saingan PBB nampaknya).

Para penjahat super kali ini betul-betul tampil lebih jahat dari biasanya (hmm parameternya apa ya? Saya juga bingung “sejahat apa”. Pokoknya sadis. Haha). Anyway, di lain pihak, para “pahlawan” dipaksa untuk mengakui bahwa mereka bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan saat bermain-main dengan “pikiran” dan “ingatan” beberapa penjahat super. Bingung? Oke, maksudnya, mereka secara sepihak menghapus beberapa ingatan para penjahat super itu. Dan, apa artinya? Itu jelas melawan hukum. Bukan hanya penjahat yang pernah dihapus ingatannya, bahkan seorang Batman pun pernah dihapus. “Demi kepentingan orang banyak.” sebut mereka yang mendukung tindakan penghapusan itu.

Di sinilah para “pahlawan” produk-produk barat tadi mengalami dilema. Terjadi debat dan bahkan pertengkaran hebat terkait penggunaan metode semacam itu (hapus ingatan.red). Hal ini jelas membuat para “pahlawan” yang sudah dikenal para fans, kemudian tampil dengan moral yang ambigu, lebih manusiawi. Menyedihkan! Dan jelas, yang terpenting, nilai kepercayaan antar sesama anggota JLA jauh telah merosot ke titik nadir. Dengan plot cerita yang seperti ini tentu dampaknya adalah mengubah masa depan dunia DC secara signifikan. Apalagi ternyata pembunuh yang dicari-cari ternyata adalah seseorang yang juga dikenal dekat oleh para anggota JLA. Benar-benar plot yang agak twist dan sedikit sinting.

Identitas “pahlawan” bukanlah dilihat dari seberapa kamu mampu ditembak rudal, radiasi atau punya kekuatan super. Tapi identitas “pahlawan” bermula dari kepercayaan. Kisah “Identity Crisis” tadi, sejatinya adalah saat manusia mempertanyakan peranan dirinya dalam kehidupan ini. Ketika tak ada yang bisa dilakukan, dan bahkan diri sendiri malah menjadi “objek” bagi komunitas, tentu akan terjadi sebuah perang batin yang luar biasa hebatnya. Dan Meltzer mendeskripsikannya begitu apik (oh, I’m one of those fans back then by the way).

Kita tinggalkan komik di atas dan beralih ke negeri tirai bambu. Masih ingat Yue yue (eh ini bener kan nulisnya? red)? Tragedi yang terjadi padanya menjadi semacam tamparan keras. Anda tahu apa yang dialami Yue yue? Sebuah pengabaian! GILA! Bocah yang bahkan untuk melindungi dirinya sendiri saja masih belum bisa, kini terbujur kaku tergilas kendaraan yang melintas DAN HANYA tanggapan dingin yang didapat.. Sebuah bentuk pengabaian yang bagi saya ketika itu melihat rekamannya melontarkan kata-kata: “ itu sakit jiwa.” Apa tidak ada rasa belas kasihan lagi manusia hari ini? Dan satu nyawa melayang begitu saja, siapa yang peduli?

Atau contoh sederhana, ketika ada orang yang jatuh dari sepeda motor, apa yang akan Anda lakukan? Menolongnya? Atau berlalu begitu saja, hanya karena dia orang asing dan merasa tidak ada manfaat dengan menolongnya (dan tentu saja dari semenjak anak-anak Anda mungkin diwanti-wanti untuk tidak berbicara dengan orang asing atau malah ikut campur urusannya)?

Atau contoh lain lagi, ketika ada orang bertanya alamat, apa yang Anda lakukan? Memberitahukan dengan jelas dan rinci, dengan niatan menolongnya? Atau segera ingin angkat kaki dari sana sebab Anda mengira dia akan menghipnotis Anda lalu harta benda Anda akan raib (well, sejujurnya saya juga takut jika kejadiaannya begini)?

Tapi hal yang paling mendasar dari semua ini adalah “kepercayaan”. Tidak ada rasa saling percaya, itu yang terjadi di dunia saat ini. Rumah-rumah besar dibangun, dengan tingkat keamanan yang berlapis-lapis. Lihat saja kompleks yang ada di kota-kota besar. Semuanya serba saling curiga, serba tidak aman.

Tunggu dulu…

Ok, sebelum semakin jauh, saya sebetulnya ingin memperlihatkan bahwa ada kaitan erat antara proses pembangunan peradaban dengan proses pembangunan kejiwaan seorang manusia. Jadi sebetulnya kelahiran “pahlawan” adalah sebagai akibat dari “kerancuan” sebuah sistem. Sederhananya begini, mengapa seorang Batman bisa lahir dalam cerita komiknya? Tanyakan saja pada warga kota Gotham yang senantiasa dihantui dengan berandalan busuk, hakim dan jaksa korup, mafia-mafia yang menggurita dan moralitas yang hancur berantakan.

Mungkin hanya tinggal menunggu pemicu yang tepat di waktu yang “pas”, perang akan terjadi, bahkan detik ini pun mungkin bisa terjadi. Apa tidak ada yang bisa menjamin kenyamanan dan keamanan orang-orang? Di sinilah letak amoralnya sebuah sistem.

Ada apa dengan dunia? Ada apa dengan Negara ini?

Sudah sedemikian parahnya, sampai-sampai saya menemukan hampir semua supir taksi di kota Jakarta yang pernah saya ajak berkelakar, selalu saja mengkritisi pemerintah. Dan jangan salah, kritikan para supir taksi ini cukup tajam (tidak kalah hebatnya dengan adu debat di acara kumpul-kumpul pengacara di acara salah satu televisi swasta).

Pemerintah? Well, saya tidak akan membahas pemerintahan lebih jauh lagi karena tidak akan ada habis-habisnya. Paling tidak lihatlah para pejabat terhormat kita di layar kaca. Wajahnya runyam, alis meruncing, sedikit bernada emosi bicaranya. Dalam pikirannya mungkin dipenuhi serangan-serangan batin yang meruncing dan kuat sekali tampaknya. Jiwanya seperti sedang sakit. Gejala yang melanda sebetulnya telah sebegitu merusak sistem dan tata nilai hidup. Tanpa topangan jiwa yang kuat, orang akan mudah untuk dihapuskan. Di sini kebutuhan akan adanya “pahlawan” muncul.

Hmm, tapi sebelumnya saya coba bawa kembali pada istilah “pahlawan” yang saya temukan di dalam Wikipedia. Pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani.

Tapi. Tapi.. Tapi…

Tapi….!!! BACA DULU ini:

Dalam aturan resmi Indonesia, pahlawan nasional Indonesia adalah:

  • Warga Indonesia yang telah meninggal dunia.
  • Telah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata, perjuangan politik, atau perjuangan dalam bidang lain mencapai/merebut/mempertahankan/mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.
  • Telah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara.
  • Telah menghasilkan karya besar yang mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia
  • Pengabdian dan perjuangan yang dilakukannya berlangsung hampir sepanjang hidupnya, tidak sesaat, dan melebihi tugas yang diembannya.
  • Perjuangannya mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.
  • Memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan/nasionalisme yang tinggi.
  • Memiliki akhlak dan moral yang tinggi.
  • Pantang menyerah pada lawan ataupun musuh dalam perjuangannnya.
  • Tidak pernah melakukan perbuatan tercela yang merusak nilai perjuangannya.

Hal tersebut dapat dipercaya jika terdapat adanya :

  • Daftar uraian riwayat hidup dan perjuangan beliau oleh yang bersangkutan secara tertulis dengan ilmiah, disusun sistematis, serta berdasarkan data yang akurat
  • Daftar dan bukti Tanda Kehormatan yang pernah diterima/diperoleh
  • Catatan pandangan/pendapat tokoh masyarakat tentang Pahlawan Nasional yang bersangkutan
  • Foto-foto/gambar dokumentasi yang menjadi potret perjuangan beliau yang bersangkutan
  • Telah diabadikan namanya melalui sarana monumental sehingga dikenal masyarakat

WOOOWWW, saya juga kaget ketika saya coba googling dan mendapatinya di Wikipedia. Ternyata sudah sedemikian ketatnya aturan mengenai “Pahlawan”. Tapi tentu hal-hal di atas mungkin agak sulit terbayang karena kedangkalan dan kenaifan bangsa kita sendiri. Ok, jadi bagaimana menyederhanakannya? Anda senang dengan segala sesuatu yang sederhana bukan?

Pertama, coba kita telusuri asal kata dari “pahlawan”. Kata “pahlawan” berasal dari bahasa Sanksekerta (tahu seperti apa bahasanya? No? well, saya juga tidak. red) phala-wan yang berarti orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama. Kata “menghasilkan” adalah inti dari “kepahlawanan”. Seberapa besar seseorang mampu berkorban untuk bangsa, negara dan agama?

Pengorbanan semacam itu, rasa-rasanya harus diimbangi dengan “reason” yang setimpal. Pengaruh gaya hidup dan proses pembangunan peradaban yang terlalu mengandalkan materi dan membuang jauh-jauh aspek ruhani, jelas berpengaruh. Bayangkan saja anak-anak SD yang dengan mudahnya mungkin mengakses internet menggunakan Blackberry. Teknologi memudahkan seseorang untuk berinteraksi dengan siapapun dan kapanpun. Untuk apa hari ini seorang manusia berkorban?

Ketika nilai totalitas belum ada, maka sejatinya manusia berada dalam keadaan tanpa identitas. Tanpa ruh. Tidak tahu dirinya sendiri harus diapakan. Tidak tahu harus dibawa kemana jiwanya. Krisis yang mendera dunia saat ini hakikatnya adalah setimpal pula dengan krisis yang menghunjam jiwa satu orang manusia. Pantas ketika al-Qur’an mengatakan:

Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya….” (Q.S. 5:32)

Begitu berharganya nilai jiwa manusia dalam pandangan al-Qur’an, sementara di masa-masa yang sulit dan penuh krisis seperti sekarang banyak orang yang merasa sangat berat beban hidupnya, dan ada juga yang akhirnya bunuh diri. Betapa menyedihkannya pemandangan yang sudah menjadi santapan media sehari-hari.

Pahlawan, bagaimanapun adalah kebutuhan manusia di setiap masa. Terutama bagi orang-orang yang tidak mampu untuk mengambil peranan dalam lingkup apa pun. Realita yang dihadapinya adalah sebuah krisis. Pertanyaan-pertanyaan mendasar akan sangat menghunjam diri. Siapa saya sebenarnya? Akan kemana? Mau apa? Bagaimana caranya?

Sebetulnya dalam perspektif al-Qur’an, ada kata kunci yang bisa menjadi benang merah semua ini. Amanah, sebuah kepercayaan. Ya, kata inilah yang menjadi kunci seseorang akan mampu atau tidak dalam mengemban sebuah tanggung jawab. Menariknya, amanah berakar kata sama dengan kata “iman” alias keyakinan dalam bahasa arab. Artinya orang yang mampu memikul beban amanah haruslah punya dasar keyakinan yang kuat. Sebab tanpa hal tersebut bagaimana dia bisa meyakinkan orang lain untuk percaya? Bahasa keren untuk hal ini mungkin tepat jika disebut “profesionalitas”. Seorang professional mampu memerankan dirinya agar tetap dalam keadaan “stabil”, tidak naik atau turun secara ekstrem. Sebab ketika keadaannya stabil, dia akan mampu menjadi seorang al-amin, selayaknya gelar yang disandang Muhammad ketika menjadi orang terpercaya di Makkah.

Bagi mereka yang telah melalui dan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam hidup layaklah disebut sebagai “pahlawan”. Tidak sulit untuk jadi pahlawan. Cukup Anda amalkan apa yang Anda telah dapatkan dan menjadi lebih baik dari hari ke hari. Dengan begitu, Anda telah menjadi PAHLAWAN bagi diri Anda sendiri.

Solo, 13-11-2011
*Dan mumpung masih ada momentum sebelum Obama berkunjung ke Bali dan Israel menyerang Iran, Selamat hari pahlawan (wah telat nulisnya. haha. maklum sambil mengejar deadline kerja)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: