Sumpah Pocong

Tua, lamban, dan sulit berpikir jernih. Begitulah kira-kira yang terjadi pada sebuah bangsa yang selalu dilanda prahara dari berbagai lini. Seluruh masalah ada di semua bidangnya. Usianya pun kini semakin tergerogoti. Semakin usang termakan zaman.

Indonesia, konon adalah bangsa yang besar. Sejarahnya pun ditorehkan dengan suatu harapan yang menjanjikan.

Dari zaman keemasan kerajaan Majapahit hingga tumbuh kembangnya kerajaan-kerajaan Islam. Dari pergolakan perlawanan terhadap kolonialisme hingga mencapai titik klimaks pada saat revolusi nasional. Bangsa ini jelas sudah “banyak” pengalaman. Tapi janji yang diharap-harapkan. Janji yang oleh banyak mahasiswa atau pemuda lainnya kini dianggap terlalu normatif dan “klise”,  Masyarakat yang makmur dan sejahtera.

Tapi, agaknya masyarakat ideal seperti ini pun disalahartikan oleh sebagian elit politik. Sehingga terjadilah penumpukan kekayaan pada satu kelompok sementara kelompok lainnya terjegal, tersandung dan jatuh. Salah tafsir seperti ini kian rumit ketika ditambah proses pencitraan berbagai tokoh politik dalam kampanye-kampanye kosong. Sebuah kampanye “baligo” dan “iklan” yang lagi-lagi menjadi sesuatu yang normatif.

Dengan keawamannya, masyarakat kecil lagi-lagi jadi korban. Sesuatu yang monoton, diulang-ulang, dan membosankan adalah salah satu cara propaganda yang diajukan Goebbels saat menjadi tangan kanan Der Fuhrer, Adolf Hitler. Dan nampaknya cara-cara seperti itu, yakni membuat masyarakat begitu tampak bodoh, agaknya berhasil diterapkan di Indonesia untuk proses “menjinakkan” rakyat kecil.

Indeks prestasi Negara ini dalam pemberantasan korupsi pun hanya naik 1.1 poin terhitung dari tahun 2001 hingga sekarang (2011.red). Ada akar masalah yang belum bisa dihilangkan. Jatuhnya rezim Orde Baru ternyata belum memberikan “cahaya” terang bagi masyarakat. Bahkan jika disurvey hari ini, banyak masyarakat yang lebih memilih untuk hidup di masa Orde Baru. Sederhananya, mereka bisa mendapat harga bahan pokok jauh lebih murah, hidup tenang dan aman (bukan mereka yang memprotes Soeharto tentunya).

Tapi tak selamanya masyarakat bisa dibodohi. Selama jiwa untuk bebas dari belenggu masih ada dan hasrat untuk mengibarkan panji kemerdekaan masih menggelora, rakyat akan terus bersikap dan menjadi penentu masa depan bangsa ini. Papua menjadi contohnya. Di sana situasi semakin panas bergolak.

Sampai kapankah Negara dan elit politik bangsa ini sadar?

Dalam konteks sejarah, di sinilah kita mesti coba sedikit merenungi kembali makna sebuah “sumpah”. Ya, bayangkan, para pemuda dengan usia sekitar 20 tahunan menggelar sebuah kongres dengan skala nasional. Mereka bersepakat untuk bersumpah dengan lantang, bersatu lepas dari penjajahan bangsa asing manapun. Tahun 1928 menjadi saksi sejarah, Para pemuda telah membulatkan tekad untuk “bersumpah”.

Soempah Pemoeda
Kami Poetra dan Poetri Indonesia Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia
Kami Poetra dan Poetri Indonesia Mengakoe Berbangsa Satoe, Bangsa Indonesia
Kami Poetra dan Poetri Indonesia Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia

Dalam narasi atau doktrinasi agama, kepercayaan dikenal dengan istilah iman, faith. Jika saja nilai-nilai ‘iman’ mampu terintegrasi dengan baik di seluruh lini, mungkin pemberantasan korupsi akan jauh lebih cepat. Sejauh mana kita bisa percaya pada diri kita masing-masing, bahwa sesungguhnya, kita, manusia biasa yang jauh dari sempurna, bisa melewati bencana ini. Momentum seperti inilah yang harusnya menjadi kesempatan bagi kita semua untuk saling rangkul-merangkul dan sadar siapa kita sebenarnya.

Harusnya kita merinding dan cepat berpikir ulang. Saat usia 20 tahun sudahkah kita berpikir dan berjuang seperti mereka-mereka itu yang sudah bertekad dengan “sumpahnya” ? Coba saja tengok klub-klub malam atau tempat-tempat dugem. Rasa-rasanya para pemuda hari ini berpindah secara drastis dari pergerakan ideologis menuju sebuah budaya “pop culture” yang akhirnya mematikan potensi dirinya, dan terutama membuat Negara ini semakin LAMBAN.

Jangan-jangan kita sendiri terjebak pemikiran yang semakin membuat kita lembam, diam dan cenderung lebih memilih menyalahkan keadaan ketimbang berbuat sesuatu yang nyata. Sebuah tindakan putus asa, yang bahkan “Iblis” dikeluarkan oleh Tuhan dari “surga” karena tindakan keputus-asaannya. Atau ternyata kita tidak jauh beda dengan apa yang bioskop-bioskop nasional suguhkan, Pocong dan setan-setan lainnya. Sumpah yang kita ucapkan tidak jauh beda dengan “sumpah pocong” yang digulirkan manakala menemukan “deadlock”. Sebuah keputus-asaan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: