Freemasonry, Boedi Oetomo dan Hari Kebangkitan Nasional

Menyambung tulisan sebelumnya mengenai “Jejak Freemasonry di Indonesia” maka di sini saya juga ingin mengulas sedikit mengenai keterkaitan Boedi Oetomo sebab tanggal 20 Mei sama-sama kita tahu diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Namun sebetulnya penuh tanda tanya jika ternyata ada berbagai kepentingan di dalam penetapan tanggalan tersebut. Seperti Orde Baru yang berhasil menyulap Pancasila menjadi satu azas tunggal (di lain waktu saya akan coba mengulasnya) dan berhasil melakukan manipulasi sejarah secara halus.

Kaum Freemasonry terutama dari negeri-negeri eropa, yakni mereka yang mengikuti perjanjian Tordesilas dan kemudian melakukan pelayaran ke dunia ketiga (silakan baca sejarah perang salib), mendapatkan tempat yang subur di Indonesia, sekalipun mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun kebanyakan dari mereka tidak menganut ajaran Islam yang sesungguhnya. Mereka ini yang seringkali disebut kaum ‘abangan’ dan di daerah lainnya, walaupun mereka mengaku Islam tetapi jiwanya kosong dari ajaran Islam, malah banyak adat istiadatnya yang bercampur sedemikian rupa dengan adat wilayah setempat, animisme, Kristen, Hindu dan Budha.

Bahkan yang patut menjadi perhatian adalah gerakan freemason tidak menampakkan diri sebagai suatu gerakan kekerasan. Malah banyak yang menunjukkan sisi kemanusiaannya dengan mendirikan yayasan dan berbagai lembaga pendidikan. Bahkan calon anggota yang hendak masuk ke dalam lingkaran Freemason disumpah sesuai dengan agama yang dianutnya. Dengan hal-hal tersebut maka banyak orang yang tertarik dan kemudian menjadi simpatisan dan bergabung.

Salah seorang tokoh yang juga pernah menjabat sebagai ketua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia yakni Dr. Radjiman Wediodiningrat tercatat sebagai tokoh pribumi yang gencar mengampanyekan gerakan kemasonan (istilah yang digunakan penduduk lokal dalam menyebut gerakan freemasonry.red). Radjiman sangat dekat dengan lingkar dalam kekuasaan keraton. Selama 30 tahun dirinya mengabdi sebagai dokter di Keraton Surakarta Hadiningrat. Radjiman adalah anggota Freemason, tercatat tahun masuknya adalah 1913. Setahun kemudian (1914.red), Radjiman memimpin Boedi Oetomo. Namanya tercatat dalam dokumen ‘The Freemason in Boedi Oetomo’ ditulis C G van Wering.

Tanah Jawa pada masa lalu adalah wilayah yang menarik para Mason (sebutan anggota Freemasonry), terutama yang bergerak dalam kebatinan dan berpegang pada prinsip dasar Kabbalah. Banyaknya peninggalan-peninggalan kuno di Jawa (semacam candi dsb) menjadi daya pikat bagi Mason Eropa. Mereka menyebut peninggalan tersebut sebagai kebijaksanaan masa silam, sementara ‘Mason melayu’ masa kini menyebutnya sebagai ‘kearifan lokal masa lalu’.

Kebanyakan dari priyai Jawa yang bergabung dalam Freemasonry adalah mereka yang lekat dengan kebatinan, mistisme dan okultisme (lihat Kabbalah), mirip seperti kepercayaan yang juga dianut anggota Freemasonry di luar negeri. Kesamaan pandangan inilah yang membuat jaringan ini begitu mudah menggurita di kalangan elit Jawa dan menjalar ke seluruh Nusantara. Tak heran, sekitar tahun 1880-an pulau Jawa sudah memikat banyak tokoh-tokoh Mason dunia. Tercatat nama-nama seperti Helena Blavatsky, pendiri gerakan Theosofi dunia dan Charles Webster Leadbeater, penulis bukuHidden Life in Freemasonry berkunjung ke pulau ini.

Keterkaitan antara Freemason, Boedi Oetomo dan elit keraton Paku Alaman sudah banyak diungkap oleh beberapa sejarawan. Namun sayang, data tersebut tidak pernah hadir dalam pelajaran-pelajaran formal di sekolah. Padahal, Freemasonry mempunyai peranan bagi para pengusung paham kebangsaan dan munculnya elit modern di Indonesia. Mengapa hal-hal ini bisa luput dari pembahasan?

Hari Kebangkitan Nasional?
Hari lahir Boedi Oetomo sudah ditetapkan secara resmi oleh Kabinet Hatta tahun 1946 sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Boedi Oetomo adalah organisasi yang beranggotaan priyai Jawa dan sebagian lagi orang Belanda tulen. Anggaran Dasar Boedi Oetomo pun menggunakan bahasa Belanda. Jika dilihat dari pembahasan sebelumnya bahwa elit-elit keraton dan priyai Jawa begitu dekatnya dengan pihak Belanda. Maka, Boedi Oetomo pun menggambarkan hal serupa. Cita-cita Boedi Oetomo sejatinya tidak berlandaskan pada nasionalisme yang dikehendaki rakyat banyak. Cita-cita Boedi Oetomo yang tertuang dalam kongresnya yang menolak hasil Kongres Pemuda I tahun 1926 adalah: mengembangkan bahasa Jawa, kesenian Jawa, dan agama Jawa, dalam lingkup Jawa Raja.

Penolakan Boedi Oetomo
Berbeda dengan Boedi Oetomo yang beranggotakan priyai, Sarekat Dagang Islam (SDI) yang berdiri tiga tahun sebelumnya yakni tahun 1905 beranggotakan rakyat jelata. Kehadiran SDI pun mendapat perhatian cukup serius dari pemerintah Belanda. Selain mendirikan Boedi Oetomo, pemerintah kolonial pun berjasa melahirkan Sarekat Dagang Islamijah pimpinan R.M.T Adhisoerjo.  Adhisoerjo tercatat pernah memimpin beberapa surat kabar seperti Medan Prijaji dan Poetri Hindia. Kemudian dia juga tercatat sebagai anggota redaksi Staatblad Melajoe dan redaktur media berkala Oranje Nassau. Media-media ini secara terang-terangan mendapat sokongan penuh pemerintahan kolonial.mo terhadap nasionalisme juga bisa dipahami sebab hal ini akan menjadi ancaman terhadap kedudukan para elit Jawa yang juga merupakan regent, wedana dan pejabat publik lainnya yang dekat dengan pemerintah kolonial Belanda. Inilah watak asli dari Boedi Oetomo yang katanya merupakan tahapan awal dari lahirnya nasionalisme yang nyata-nyata tidak jauh beda dengan Belanda itu sendiri.

Beberapa pers yang juga terlibat elit-elti Jawa di dalamnya bahkan lebih jauh lagi telah melakukan penistaan terhadap ajaran agama Islam. Media massa cetak yang bernama Djawi Hisworo melakukan penghinaan terhadap Nabi besar Islam Rasulullah Muhammad saw. Kalangan kebatinan saat itu memuat artikel berjudul  ‘Pertjakapan Antara Marto dan Djojo’ di media massa cetak tersebut yang isinya adalah penghinaan Nabi Muhammad sebagai pemabuk dan pemadat. Artikel tersebut membuat berang aktivis keislaman yang tergabung dalam Sarekat Islam. Sehingga kemudian lahirlah satu kesatuan khusus yang bertugas melawan segala bentuk penghinaan terhadap Rasulullah yang diberi nama Tentara Kandjeng Rasoel atau Tentara Nabi Muhammad di bawah pimpinan HOS Tjokroaminoto.

Bahkan dalam peringatan 10 tahun Boedi Oetomo tahun 1918 yang dihadiri oleh elit-elit Jawa dan orang-orang Belanda, para aktivis Boedi Oetomo menyatakan bahwa Islam menghalang-halangi kepercayaan dan kebudayaan Jawa. Pemimpin perayaan itu adalah Goenawan Mangoenkoesoemo. Tercatat hadir dalam perayaan itu adalah Soerjadi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara) dan J.H Abendanon, seorang tokoh gerakan Politik Etis yang berkawan dengan R.A Kartini.

Goenawan Mangoenkoesoemo pun menulis sebuah artikel yang berisi pelecehan terhadap ajaran Islam dalam buku kenang-kenangan Boedi Oetomo 1908-1918. Berikut beberapa kutipannya:

 

“……..Jika kita berlutut dan bersembahyang, maka bahasa yang boleh dipakai adalah bahasanya bangsa Arab. Gamelan kita nasibnya tidak lebih beruntung. Dia sudah dikutuk dan dibuang. Kita hanya boleh menunjukkan kegembiraan hati dengan musik padang pasir, agaknya hanya terbanglah yang mampu membawakan suara yang membuat hati Allah berkenan. Namun demikian dan bagaimanapun juga, di sinilah Islam sebenarnya menderita kekalahan besar terhadap kita. Sebab, gamelan tetap merupakan musik kesayangan bagi lingkungan tua….

Kemana larinya bakat dasar kita, hadiah Tuhan yang dahulu telah menciptakan dan membangun Borobudur dan banyak candi-candi lainnya? Bukankah candi-candi itu juga dipersembahkan kepada Tuhan? Tidakkah bakat dasar itu masih tetap tinggal dan berkembang di Pulau Bali? Hasil-hasil karya yang banyak ahli seni dan pujangga kagum melihatnya? Begitulah kita saksikan. Bagaimanapun tinggi nilai kebudayaan Islam, ternyata kebudayaan itu tidak mampu menembus hati rakyat. Bapak penghulu boleh saja menuntut supaya kita mengucapkan syahadat: Hanya ada satu Allah dan Muhammad-lah nabi-Nya”, tetapi dia tidak akan dapat berbuat apa-apa, bila cara hidup kita, jalan pikiran kita masih tetap seperti sewaktu kekuasaan Majapahit dihancurkan secara kasar oleh Demak.”

Mengapa Boedi Oetomo yang dipilih sebagai peletak dasar kebangkitan Nasional? Padahal dari lama berdirinya, organisasi ini mati tahun 1935 dan tiba-tiba seolah dihidupkan kembali tahun 1946 lewat keputusan Kabinet Hatta yang menjadikannya sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Padahal pada tahun itu pula organisasi Sarekat Islam masih hidup dan masih memperjuangkan kepentingan politiknya, yakni kemerdekaan Indonesia sesuai dengan gagasan revolusioner dari HOS Tjokroaminoto yang juga tertuang dalam buku “Sosialisme dan Islam”.

Jika ditilik dari segi perjuangannya, maka tanggal 18 Oktober yang juga hari lahirnya Sarekat Dagang Islam lebih cocok dijadikan Hari Kebangkitan Nasional.  Mengapa hal-hal seperti ini dikesampingkan oleh sejarah-sejarah formal yang diajarkan di sekolah-sekolah?

Apakah ini adalah usaha untuk mendiskreditkan Islam dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan?

Apakah juga elit-elit nasional seperti Soekarno dan bahkan Hatta telah disusupi kepentingan-kepentingan Freemasonry? Apakah juga keberadaan Indonesia hari ini sebagai suatu negara adalah juga berdasarkan kepentingan Freemasonry?

Bagaimanakah keadaannya hari ini?

Tugas generasi-generasi peneruslah untuk terus bisa meluruskan dan memperbaiki bangsa ini. Sebab kebesaran sebuah bangsa akan luntur manakala generasi penerusnya tidak mampu menghargai sejarah bangsanya sendiri.

Tutur sejarah yang jujur agaknya dapat menyelamatkan bangsa ini, sebelum kita semakin dipermalukan dunia internasional, toh hari ini pun kita masih belum bisa mengelola PSSI dengan baik, korupsi tidak kunjung usai, para mafia masih berkeliaran dan menguasai elit-elit politik. Apa di belakang ini semua ada suatu gerakan terselubung jelmaan Freemasonry? Entahlah, mungkin waktu yang akan menjawabnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: