Hijrah: Simbol Ketaatan Seorang Mukmin

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. 2:218)

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. 24:51)

Umar bin al-Khaththab ra. menyatakan: Hijrah itu memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. (HR Ibn Hajar).

Rasulullah bersabda: Tiada lagi hijrah sesudah futuhat Makkah.

Hijrah secara bahasa berasal dari kata hajara yang berarti pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain, pindah dari suatu keadaan ke keadaan yang lain, atau meninggalkan sesuatu. Dengan landasan kecintaan yang luar biasa kepada Allah dan Rasul-Nya, orang-orang mukmin pergi meninggalkan tanah air Mekkah yang juga mereka cintai. Akan tetapi kecintaan mereka kepada Allah melebihi segala sesuatu yang mereka miliki. Mereka (orang mukmin.red) menjawab panggilan Allah dan Rasul-Nya dengan jawaban “sami’na wa atho’na – kami dengar dan kami taat”.

Orang-orang yang mengikuti Rasul adalah orang-orang yang ikhlas dan melapangkan jiwa mereka untuk sama-sama menegakkan ajaran Allah di muka bumi. Dengan tingkat kesadaran seperti inilah yang membawa orang-orang mukmin kepada kecintaan terhadap Allah semata. Allah sebagai satu-satunya Ilah, satu-satunya tempat bergantung. Maka dalam perjalanan Islam yang dibawa Muhammad Rasulullah, persiapan dan pembinaan mental aqidah dalam periodisasi Mekkah menjadi penting. Sebab setelah mereka tiba di Yastrib (Madinah.red), mereka harus siap dalam menjalankan segala program Allah yang telah dibebankan kepada mereka. Mereka memaknai ajaran Islam sebagai satu-satunya jalan hidup mereka, lain daripada itu adalah tidak. Sehingga kecintaan mereka kepada Allah tergambar dari perjalanan hijrah mereka yang mengorbankan begitu banyak harta dan jiwa, mengorbankan berbagai perasaan yang ada, hanya demi Allah semata, lillahi ta’ala.

Barangkali inilah yang membedakan umat Islam hari ini (pasca Rasulullah.red) dan saat di zaman Rasul dan para sahabat besar. Mereka mengorbankan jiwa, raga dan nyawa demi meninggikan kalimatullah, laa ilaha illallah sementara hari ini, boleh jadi, orang berucap laa ilaha illallah hanya untuk mengisi perut belaka. Sehingga lupalah mukminin mukminat, muslimin muslimat dari esensi kalimat “sami’na wa atho’na – kami dengar dan kami taat”. Allah mengingatkan kita dalam firman-Nya:

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab: “Kami mendengarkan tetapi tidak menaati”. Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: “Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat)”. (Q.S. 2:93)

Maukah kita hidup dalam kemunafikan, seperti yang tercontohkan dalam sikap dan perbuatan kaum Nabi Musa as? Mereka berucap “sami’na wa ashoyna“–“Kami dengar tapi kami tidak menaati”. Mereka mendengar, mereka menyimak, mereka TAHU akan perintah untuk menegakkan ajaran Allah. Akan tetapi, mereka secara sadar menolak untuk melaksanakan perintah tersebut.

Mereka disibukkan oleh keinginan-keinginan pribadi mereka sendiri. Lupalah mereka terhadap tugas dan kewajiban. Hati mereka tidak lagi cinta kepada Allah sepenuhnya. Hati mereka mulai condong kepada kekafiran. Rela jika diri dipimpin oleh kekafiran. Apa mau kita dikategorikan seperti itu? Naudzubillah! Sebab vonisan Allah adalah kafir!

Hijrahnya Rasulullah saw. dari Mekkah menuju Madinah merupakan babak baru dalam perjuangan ummat Islam dalam mengembangkan eksistensi dakwahnya. Langkah-langkah yang dilakukan adalah bagaimana melaksanakan ajaran Islam secara menyeluruh. Perubahan nama Yastrib menjadi Madinah tentu memiliki arti tersendiri sebagai babak baru perjuangan ummat Islam. Peristiwa hijrah ini pula yang menandakan berakhirnya periode Mekkah.

Dapat diambil kesimpulan bahwa peristiwa hijrah adalah suatu perbuatan Nabi yang teramat penting; karena setelah itu umat Islam hidup di zaman baru, zaman yang terang benderang, karena sorot cahaya Ilahi ke tanah Madinah. Sebuah babak baru yakni, tegaknya pemerintahan Islam, kekuasaan Islam—Negara Islam yang berdaulat. Orang-orang Mukmin, muslim yang berpikiran lurus dan jernih haruslah mengikut dan mencontoh perihidup Rasulullah dan para sahabat. Apa kita mau mengikut Nabi? Atau mengikuti sifat dan tabiat Bani Israil?

Jangan-jangan pola pemikiran Bani Israil yang jumud dan selalu tampil ‘nyleneh’ dalam urusan agama ada dalam perilaku kehidupan berbangsa kita. Tahu akan ajaran agama Allah, akan tetapi ada keengganan dalam pelaksanaannya. Apakah juga mungkin bencana alam yang terjadi merupakan pertanda? Sebab jika diperhatikan di dalam Qur’an, Allah akan menhancurkan negeri-negeri yang telah tersampaikan risalah. Indonesia? Mungkin saja apalagi dengan penduduk yang berlabelkan Islam begitu banyaknya.

Dalam momentum tahun baru hijriyah, mari sama-sama kita jernihkan hati dan pikiran, mari kita sama-sama luruskan niat. Tegaknya Islam dalam diri, keluarga dan masyarakat adalah suatu keniscayaan. Cepat atau lambat, Allah akan memberikan keputusannya untuk memisahkan golongan yang baik dari golongan yang buruk, antara haq dan batil. Mudah-mudahan kita termasuk yang berada dalam golongan yang haq. Amin. Wallahu’alam bishawab


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: