Sekilas Jejak Freemasonry di Indonesia

Beberapa orang yang tergabung dalam komunitas pecinta Israel menggelar perayaan hari kemerdekaan Israel pada hari Sabtu, 14 Mei 2011. Ada apa gerangan? Mengingat sebelum-sebelumnya belum pernah ada kegiatan yang sefrontal ini. Apalagi jika melihat politik luar negeri Indonesia yang menentang segala bentuk penjajahan dan sejenisnya. Penjajahan yang dilakukan Israel atas Palestina yang juga termasuk negeri muslim seperti Indonesia adalah salah satu pangkal masalahnya.

Sebelum membicarakan Israel dengan Keyahudian-nya serta kebiadabannya dalam agresinya ke tanah Palestina, mari kita berkaca pada sejarah bangsa ini. Tentu sejarah yang dimaksud pun haruslah bersih dari setiap anasir-anasir kepentingan penguasa mana pun. Sebab terkadang sejarah akan mengejutkan manakala dia betul-betul bersih dan lurus. Sebab kita adalah anak-anak yang dihasilkan sejarah. Seberapa paham dan mengerti kita akan sejarah juga menjadi parameter besar atau kecilnya sebuah generasi bangsa.

Akrabkah bangsa ini dengan “yahudi” atau dengan ordo libertarian alias iluminati yang konon sebagai gerakan yahudi?

Banyak sekali ulasan mengenai sepak terjang jaringan-jaringan yahudi di dunia beserta teori konspirasi besarnya. Bahkan isu-isu sentral seperti “2012” dan semacamnya konon merupakan sebuah grand design dari ordo-ordo‘yahudi’ itu. Akan tetapi tahukah Anda? bahwa bangsa kita pernah mengalami sejarah yang cukup gelap, sejarah yang seringkali dikesampingkan demi ambisi dan status quo penguasa?

Freemason atau dalam bahasa Belanda dikenal dengan nama “Vrijmetselarij” adalah sebuah organisasi/jaringan Yahudi internasional yang bertujuan membangun satu tatanan dunia yang bergerak secara clandestine (bawah tanah.red) dan tidak terikat dengan pihak manapun kecuali sesama anggota Freemasonry. Terdiri dari dua suku kata “Free” yang berarti kebebasan atau kemerdekaan dan “Mason” yang berarti tukang bangunan (the builders). Maka dengan demkian arti harfiah dari Freemason adalah “tukang-tukang bangunan yang merdeka” alias mereka yang membangun tatanan dunia.

Tertulis dalam tulisan terjemahan karya Dr.Th. Stevens yang berjudul “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962” bahwa dalam Tarekat Mason Bebas (sebutan untuk Freemason di Indonesia):

 

…nilai tinggi kepribadian manusia berada di latar depan. Manusia sebagai individu dalam pemikiran masonik ditempatkan secara sentral. Pekerjaan rohani dalam Tarekat Mason Bebas diarahkan pada penemuan wujud sendiri. Erat hubungannya dengan ini, yakni asas-asasnya yang bertujuan memajukan apa yang dapat mempersatukan manusia dan melenyapkan apa yang dapat memisahkan manusia. Berupaya menjadi “manusia yang lebih baik” berusaha mencapai tarekat semua manusia, Mason bebas membangun kehidupan bersama, kehidupan masyarakat. Gambaran ideal ini dalam Tarekat Mason Bebas disebut: “dibangunnya rumah pemujaan umat manusia”. Dengan simbol cahaya lilin yang menandakan cahaya sang pembebas, Lucifer. Rumah-rumah pemujaan itu antara lain banyak kita temui dalam gedung-gedung yang sarat nilai sejarah. Rumah pemujaan atau disebut sebagai loge/loji adalah tempat pertemuan anggota persaudaraan mason dan tempat ritual-ritual diselenggarakan….

Seiring terjadinya imperialisme dan dibukanya pelayaran-pelayaran di dunia ketiga dalam rangka mencari dunia baru. Maka Freemason pun mulai memasuki dunianya yang baru. VOC sebagai kongsi dagang Belanda yang datang ke Nusantara juga membawa semua pengaruh sosial budaya negerinya ke Nusantara. Kurang lebih 350 tahun Belanda bercokol di Indonesia. Selama waktu itu pula Tarekat Mason Bebas mulai tersebar. Dan saat itu prosesnya tidak sulit. Sebab menurut beberapa literatur masonik, orang jawa dan Belanda dalam pertemuan Tarekat dapat duduk sama tinggi, yang kala itu sangat tabu dilakukan. Dan karena dasar kemanusiaan itulah banyak orang pribumi yang akhirnya tertarik dan kemudian bergabung.

Pada mulanya keanggotaan Tarekat Mason Bebas di masyarakat hindia-Belanda hanyalah diisi oleh orang-orang Belanda saja. Untuk melihat kapan masuknya golongan pribumi ke dalam Tarekat agaknya sulit dijawab. Tapi yang jelas ada beberapa yang tercatat sebagai anggota Tarekat Bebas di tahun 1830an seperti pelukis terkenal Raden Saleh yang dilantik tahun 1836 di loge “Eendracht Maakt Macht(Bersatu Kita Kuat)” di Den Haag. Di Jawa sendiri ada Abdul Rahman, keturunan dari Sultan Pontianak yang dilantik tahun 1844 di loge “Vriendschap (Persahabatan)” di Surabaya.

Orang-orang Jawa terutama priyai kemudian bermunculan masuk ke dalam keanggotaan. Salah satunya adalah Dr. Radjiman Wedioningrat, yang kelak menjadi ketua Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Kemudian Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo yang juga menjabat sebagai Kepala kepolisian Negara RI pernah menjadi Suhu Agung (ketua umum/Grandmaster) dari Timur Agung Indonesia atau Federasi Nasional Mason. Sultan-sultan Yogya pun sudah terbiasa menjalin hubungan yang erat dengan Freemasonry. Pada tahun 1925 Sultan Hamengku Buwono VIII dari Yogya pernah berkunjung ke loge Mataram. Dan Suhu Agung pertama Timur Agung Indonesia adalah R.A.S. Soemitro Kolopaking.

Tahun 1957, tercatat menjadi pertemuan Tarekat Mason Bebas secara formal yang terakhir. Sebab pada tahun 1962 Soekarno membubarkan organisasi ini secara resmi di Indonesia karena situasi politik negeri ini kala itu menuntut pembubaran organisasi-organisasi kebudayaan semacam itu. Padahal jika ditilik secara silsilah hubungan darah maka keluarga dari Soekarno pun masuk ke dalam gerakan teosofi yang lagi-lagi diprakarsai oleh gerakan-gerakan keyahudian. Apalagi mentor-mentor Soekarno adalah Kemal Attaturk, Adolf Baars dan Dr. Sun Yat Sen yang ketiganya adalah juga aktivis Freemasonry.

Dengan demikian keberadaan organisasi semacam ini bukanlah hal baru bagi bangsa ini. Sebuah tantangan bagi generasi muda hari ini adalah upaya untuk kembali meluruskan sejarah bangsa ini secara bersih, sebab hal-hal seperti ini sudah sejak lama dihilangkan dari pendidikan formal. Banyak literatur yang mengupas masalah-masalah seperti ini namun sedikit yang melengkapinya dengan data-data primer. Dan hampir semua data-data primer mengenai hal ini didapat dari tulisan-tulisan orang Belanda sendiri.

Dengan beberapa fakta sejarah yang sedikit telah dipaparkan agaknya menjadi suatu pertanda bahwa bangsa ini tidak bisa lepas begitu saja dari pengaruh masa-masa kolonial. Tiga setengah abad bukanlah waktu yang sebentar, tentu lamanya pemerintahan Belanda bercokol di Indonesia menandakan hubungan sosial budaya yang tidak sedikit pengaruhnya.

Dan tulisan ini hanyalah sekelumit kumpulan data-data yang hanya akan menjadi sebatas wacana manakala tidak ada sikap dan gerakan guna membangun tatanan bangsa ini, sebab penjajahan mental melalui alat bernama globalisasi dan teknologi kini menjadi pusat perhatian. Tentu kita tidak menginginkan terjadinya penghancuran generasi bangsa. Sebab itu mari sama-sama kita murnikan sejarah, lepas dari kepentingan penguasa manapun juga.

Mari kita simak salah satu sajak yang cukup masyhur di kalangan para Mason berikut ini:

Oh, East is East, and West is West

and never the twain shal meet,

Till Earth and Sky stand presently at

God’s great judgement seat,

But there is neither East nor West,

Border, nor Breed, nor Birth,

When two strong men stand face to face

Though they come from the end of earth

 

Ballad of East and West by Rudyard Kipling


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: