Minhajul Futuhat (bag IV: Sufi)

Sekarang kita lihat kelompok terakhir. Kelompok yang ingin menghindari hingar bingar kehidupan duniawi. Gerah dengan politik kotor pemerintahan beserta kebobobrokan moralnya, mereka mulai menghidupkan gerakan “spiritual” untuk membersihkan jiwa. Mereka menamakan diri Sufi.

Sufi

Ketika para ulama sedang mengodifikasi hukum, orang-orang mulai bertanya, “Apakah semua wahyu pada akhirnya akan menjadi seperti ini – seperangkat aturan belaka?

Sebagian dari orang-orang ini kemudian mengeksplorasi Islam lebih jauh lagi. Mereka terjun ke dalam latihan-latihan spiritual yang jauh melampaui tuntutan kewajiban. Mereka membaca al-Qur’an tiada henti dan melafalkan nama-nama Allah selama berjam-jam. Mungkin orang-orang ini bereaksi terhadap gaya hidup mewah kaum elite pejabat muslim.

Mereka tidak menyatakan sebuah kredo baru, juga mereka tidak memulai sebuah sekte yang berbeda. Tentu saja mereka menentang segala yang berbau ambisi keduniawian. Mereka mengembangkan teknik untuk menghilangkan gangguan dan kehendak dalam setiap kehidupan. Mereka menyatakan perjuangan batin untuk membuang ego adalah jihad yang sebenarnya.

Di Bagdad, ada seorang pria bernama al-Junayd yang bisa melakukan salat empat ratus rakaat setelah bekerja setiap hari. Ini mungkin sebagai reaksi terhadap gaya hidup mewah kaum elit muslim. Sebagian dari para pencari ini dengan sengaja menjalani hidup dalam kemiskinan, mencukupkan diri dengan roti dan air, tidak menggunakan perabotan dan memakai pakaian yang terbuat dari wol kasar sederhana yang dalam bahasa Arab disebut suf. Dari sinilah istilah sufi muncul.

Pertanyaan semacam ini kemudian menjadi sentral permasalahan para sufi: “Bagaimana engkau memurnikan hatimu? Terlepas dari seperti apa gerak tubuh dan zikir yang benar, bagaimana caranya agar engkau bisa tenggelam dalam Allah dengan mengesampingkan semua yang lain?”

Di Basrah, ada penyair dengan nama Rabiah al-Basri, yang riwayat hidupnya melegenda. Ia adalah wanita muda ketika terjadi kudeta oleh bani Abbasiyah. Sampai kemudian ia bernasib sebagai seorang budak dan akhirnya tiba di Basrah. Majikannya saat itu konon dibuat terkagum-kagum dengan energi spiritualitas dari Rabi’ah, ia melihat ada lingkaran cahaya yang mengelilingi Rabi’ah. Kemudian ia membebaskan Rabi’ah dan berjanji untuk mengupayakan perkawinan bagi mantan budak itu.

Tapi Rabi’ah secara mengejutkan menjawab bahwa ia tidak bisa menikah, karena ia sudah jatuh cinta. “Jatuh cinta?” majikannya terperanjat. “Dengan siapa?”

“Dengan Allah!” dan Rabi’ah mulai mengungkapkan puisi-puisi dengan gairah membara sehingga bekas majikannya menjadi murid pertamanya. Rabi’ah masuk ke dalam kehidupan “zuhud”, perenungan mistik yang sering meletup menjadi sebuah puisi cinta yang teramat emosional. Tapi kemudian merambah menjadi semakin “mabuk” hingga betul-betul merasakan tenggelam dalam lautan “Allah”.

Sampai saat ini boleh dibilang ada dua aliran sufi. Pertama, sebut saja sufi ‘sadar’ yang memang secara ketat mengkhususkan diri untuk beribadah dan dzikir. Dan yang kedua adalah sufi ‘mabuk’ yang tadi dimulai dengan cerita legenda Rabi’ah al-Basri.

Orang-orang berbondong-bondong memasuki wilayah baru, sufi. Mereka berharap “tiba di suatu tempat” yang suci dan kekal. Pola ini melahirkan hubungan antara guru dan murid. Setiap guru sufi memiliki metodologi yang berbeda-beda. Nantinya apa yang dilakukan sufi tadi diberi label thariqah, “metode”, suatu jalan menuju ke “tempat” yang dimaksud.

Para “ulama” tidak berpandangan baik terhadap kalangan ini, terutama sufi ‘mabuk’. Bahasa-bahasa mereka dinilai sesat menyesatkan oleh “ulama” saat itu. Permusuhan ini memuncak di abad kesepeluh masehi terhadap seorang sufi asal Persia bernama Al-Hallaj. Ia juga legenda dalam dunia sufi.

Pada satu masa ia pernah berdiri tanpa bergerak di depan Ka’bah selama satu tahun tanpa mengeluarkan sepatah kata. Satu tahun! Orang gila macam apa yang bisa diam di sana seperti patung tak bernyawa!

Bayangkan perhatian yang terarah kepadanya lantaran hal ini! Ia kemudian mengembara ke India dan Asia Tengah, kemana pun ia pergi, selalu ia sempatkan untuk melantunkan puisi dan khutbah-khutbah yang cukup nyleneh. Banyak orang pun menjadi pengikutnya.

Akan tetapi sufi yang ‘sadar’ mulai menjauh dari al-Hallaj karena ucapan-ucapannya seperti: “Sorbanku tak melilit siapa-siapa selain Allah.” Dan jika masih ada yang belum paham apa maksud ucapannya, “Aku adalah Allah.”

Baiklah, yang sebenarnya ia katakan adalah, “Aku adalah Kebenaran,” tapi Kebenaran itu sendiri adalah bagian dari asma Allah dan mengingat sejarah terbaru al-Hallaj, tak seorang pun akan salah mengartikan ucapan itu. Memang lelaki ini cukup spektakuler di zamannya. Tindakan dan ucapan-ucapan al-Hallaj sudah keterlaluan. Akibatnya, “ulama” ortodoks menuntut tindakan yang menyeretnya ke dalam penjara.

Konon ajaran al-Hallaj bermetamorfosis ke dalam diri syekh Siti jenar atau Syekh lemah abang yang juga terkenal di Indonesia. Bahkan ciri-ciri fisik syekh Siti jenar sama persis dengan al-Hallaj. Baik al-Hallaj maupun syekh Siti Jenar sama-sama mengalami hukuman kematian. Namun kematian mereka tidak lantas menghentikan ajaran-ajarannya, malah semakin menumbuhkembangkan. Lihat saja hari ini masih banyak yang mengaku pengikut setia syekh Siti Jenar, termasuk juga di dalamnya musisi Ahmad Dhani.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: