Minhajul Futuhat (bag III: Filsuf)

Mari kita buka kembali lembaran-lembaran peradaban yang dibangun oleh para ilmuwan muslim. Setelah sebelumnya kita mencoba melihat lahirnya ahli-ahli hadits, semacam Bukhari dan Muslim, sekarang kita coba kupas kelompok yang kedua. Kelompok yang lahir akibat peranan “ulama” yang cenderung meluas dan berkarakter ortodoks. Mereka adalah Filsuf

Filsuf

Sementara ulama menegakkan bangunan doktrin, sekelompok pemikir muslim bekerja keras untuk menafsirkan filsafat dan penemuan lainnya dalam terangnya wahyu Islam dan kemudian mengintegrasikannya ke dalam bangunan sistem yang masuk akal tentang akal, kosmos, dan tempat manusia di dalam semua itu. Proyek-proyek inilah yang melahirkan apa yang disebut Filsuf.

Perluasan Islam telah membawa jazirah Arab untuk mengenali ide-ide dari dunia luar semacam orang-orang Hindu dan Budha, Persia ataupun Yunani. Alexandria memiliki kumpulan pustaka yang luar biasa, menjadikannya sebagai ibukota intelektual dunia GrekoRomawi. Dan saat Arab telah menguasai kota intelektual itu.

Di kota inilah umat Islam menemukan karya Plotinus, seorang filsuf yang pernah mengatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini saling terhubung seperti sebuah organisme tunggal dan semuanya menyatu ke dalam Satu yang mistis. Dalam konsep “Satu” ini, kaum Muslim menemukan sesuatu yang mendebarkan bagi penekanan tentang nilai Tauhid.

Eksplorasi lebih lanjut membawa umat Islam kepada pemahaman filsafat Yunani. Dan bangsawan dinasti Abbasiyah ternyata menaruh minat besar atas ide-ide ini. Siapa pun yang bisa menerjemahkan sebuah buku dari berbagai bahasa akan mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi. Dan para penerjemah pun berbondong-bondong bermigrasi ke Bagdad.

Kaum Muslim adalah intelektual pertama yang melakukan perbandingan antara matematika Yunani dan India, atau Kedokteran Yunani dan India, atau kosmologi Persia dan Cina. Mereka mulai menyelidiki bagaimana ide-ide kuno ini cocok satu sama lain dan terutama selaras dengan wahyu Islam. Bagaimana spiritualitas terkait dengan nalar, dan bagaimana langit dan bumi dapat ditarik ke dalam satu skema yang menjelaskan seluruh alam semesta.

Para pemikir sekelas Ibnu Sina lahir di masa-masa ini, dan mencapai pemahaman mengagumkan, baik itu tentang penyakit, perawatan medis maupun anatomi – sirkulasi darah sudah mereka ketahui, demikian pula fungsi hati dan sebagian organ utama lainnya. Hingga kemudian dunia Muslim memiliki rumah sakit terbaik di dunia saat itu: Bagdad sendiri memiliki ratusan fasilitas semacam ini.

Di Irak abad ke-9 dan ke-10, tidak terdapat sains murni yang bisa dipisahkan dari agama. Para filsuf melahirkannya tanpa cukup menyadarinya. Berbeda dengan Barat dimana sains dan agama saling berbantah-bantahan sehingga terjadi ruang pemisahan antara sains dan agama. Prinsip alam adalah milik ilmu pengetahuan sedangkan moral dan etika adalah wilayah agama dan filsafat. Para Filsuf Muslim menganggap agama sebagai bidang penelitian mereka dan teologi sebagai kekhususan intelektual mereka. Sehingga apapun yang mereka temukan tentang botani, optik ataupun ilmu medis adalah produk sampingan dari pencarian ini, bukan sebagai objek sentralnya.

Dan lahirlah bentuk-bentuk pertanyaan seperti: “Jika seseorang melakukan dosa besar, apakah dia disebut nonmuslim, atau dia hanyalah muslim yang buruk?

Satu himpunan aturan diterapkan para ulama dengan membagi masyarakat saat itu antara beriman dan tidak beriman. Sebagian filsuf menangani pertanyaan tadi mengatakan, umat Islam yang berdosa besar mungkin termasuk golongan ketiga yang terletak antara beriman dan tidak beriman.

Dari konsep golongan ketiga inilah berkembang sebuah madzhab teologi sendiri yang disebut Muktazilah, bahasa Arab untuk “orang yang memisahkan diri”, disebut seperti ini karena mereka telah memisahkan diri dari arus utama pemikiran keagamaan ortodoks. Mereka kemudian mengatakan inti dari Islam adalah Tauhid: Kesatuan, Keesaan dan universalitas Allah. Dari sinilah mereka berpendapat bahwa al-Qur’an tidak mungkin kekal dan tidak diciptakan karena kalau demikian, al-Qur’an akan merupakan entitas ilahi di samping Allah dan itu adalah bentuk penghujatan.

Dan dengan mengejutkan mereka mengatakan bahwa al-Qur’an ini adalah ciptaan Allah, sama seperti makhluk. Kitab ini adalah kitab yang hebat tapi tetap hanya sebatas kitab. Dan jika itu adalah sebuah kitab, maka al-Qur’an bisa ditafsirkan dan bahkan diubah!

Kaum Muktazilah berbicara bahwa nalar adalah cara untuk menemukan kebenaran dan etika. Para Filsuf ilmuwan umumnya mengafiliasi diri mereka ke dalam madzhab ini. Beberapa di antara mereka bahkan meletakkan nalar di atas wahyu.

Dengan demikian kita bisa melihat bagaimana keyakinan seperti itu akan menempatkan para filsuf dan para ulama saling berselisih. Ulama berada dalam posisi yang cukup baik sebagai kelompok yang mengendalikan hukum, pendidikan, dan lembaga sosial. Tapi Muktazilah pun punya dukungan istana, keluarga kerajaan dan bangsawan-bangsawan yang kebingungan bagaimana cara menghabiskan hartanya.

Khalifah Abbasiyah ketujuh bahkan menjadikan madzhab Muktazilah sebagai doktrin resmi negeri itu. Para hakim harus melewati tes filsafat dan calon pejabat harus bersumpah setia kepada nalar. Dan akhirnya kaum Muktazilah ini melangkah terlalu jauh: Menggunakan kekuasaan pemerintahan.

Terjadilah debat sengit antara ulama ortodoks yang fenomenal, Ibn Hanbal (madzhab Hambali) dengan para teolog Muktazilah. Debat semacam ini tidak menghasilkan apa-apa selain dipukuli dan dipenjaranya Ibn Hanbal. Namun penyiksaan ini malah menumbuhkembangkan ide dari Ibn Hanbal. Bahkan Khalifah selanjutnya meninggalkan doktrin Muktazilah dan malah memberikan apresiasi kepada Ibn Hanbal, karena menjadi  semacam jembatan dan harapan masyarakat yang kecewa terhadap moral pejabat yang rusak oleh nafsu dunia.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: