Minhajul Futuhat (bagian II: Ulama)

Melanjutkan tulisan sebelumnya. Dari riwayat yang menerangkan tentang Iman, Islam, Ihsan hingga akhirnya menghasilkan kelompok-kelompok sendiri, sejarah Islam telah begitu banyak menempuh perjalanan. Sebelum kita menyimpulkan “apa gerangan” yang bisa dilakukan. Ada baiknya kita mencoba mengkaji kelompok-kelompok tadi. Pertama, “Ulama“.

Ulama

Secara bahasa ulama berarti ‘orang yang tahu’. Kita tahu bahwa tidak semua hal dalam al-Qur’an yang tampil dengan bahasa yang eksplisit. Maka dari itu harus ada sekelompok orang-orang yang mempunyai kualifikasi tertentu untuk menginterpretasikan al-Qur’an. Kita sebut saja mereka ini dengan istilah ‘ulama’. Apakah maksud ‘ulama’ ini sama dengan yang dikatakan oleh Nabi: “Ulama adalah pewaris kenabian” ? Tunggu dulu, tidak secepat itu. Ada baiknya kita coba mengurai kembali sejarah.

Sejak awal umat Islam mencoba mengingat-ingat tentang Nabi untuk mengisi setiap celah dalam pedoman al-Qur’an. Barangkali Umar adalah sosok yang mencoba membuka jalan ini. Pendekatan Umar membuat orang termotivasi untuk mengumpulkan segala yang pernah dikatakan dan dilakukan Nabi Muhammad, kutipan dan laporan peristiwa inilah yang disebut sebagai hadits.

Untuk menjaga kualitas dan kepercayaan laporan-laporan tadi, maka Umar membuat semacam dewan ‘ulama’ yang bekerja untuk memeriksa berbagai sekelumit pertanyaan yang berasal dari umat. Tapi, hadits berkembang biak dengan cepat. Bahkan hingga sampai suatu ketika, Umar sendiri sempat melarang penggunaan hadits karena banyaknya hadits palsu yang beredar.

Singkat cerita, untuk mengukur kredibilitas orang-orang yang meriwayatkan hadits, seorang sarjana, seperti Bukhari, harus tahu banyak tentang mereka dan zaman hidupnya. Seorang sarjana hadits juga harus mengetahui keadaan tempat hadits itu diucapkan. Sekitar tujuh atau delapan dekade pasca wafatnya Nabi, para sarjana Muslim di seluruh dunia mulai bergerak untuk menyusun dan melakukan kodifikasi tentang hadits. Selanjutnya bahkan sampai melahirkan madzhab.

Dan hal yang ‘mengerikan’ pun kembali terjadi, tepatnya, lagi-lagi di masa dinasti. Kepentingan para sarjana muslim yang mengkhususkan dirinya pada ilmu hadits ternyata berbeda dengan penguasa. Tak jarang para Imam madzhab diperlakukan dengan seenaknya oleh para penguasa ‘muslim’. Mereka disiksa, dipukuli, dipenjara bahkan ada yang mati diracun!

Dunia Islam mengenal ada empat Madzhab besar Sunni dan satu Madzhab besar Syi’ah. Masing-masing madzhab disusun oleh seorang pemuka atau diistilahkan Imam Madzhab. Dari kelompok Sunni lahir Madzhab Hanafi yang didirikan Abu Hanifah dari wilayah Afghanistan (sekalipun ia mengajar di Kufah); Madzhab Maliki, oleh ahli hukum asal Maroko, Ibn Malik (sekalipun ia mengajar di Madinah); Madzhab Syafi’i, oleh Imam al-Syafi’i dari Makkah (walaupun ia kemudian menetap di Mesir); Terakhir, Madzhab Hambali yang didirikan oleh Ahmad Ibn Hanbal yang cenderung kaku tanpa kompromi dan menyebar di wilayah jazirah Arab.

Madzhab-madzhab ini semenjak masa Abbasiyah telah dianggap ortodoks, orang-orang muslim saat itu dapat mengikuti salah satu dari madzhab yang ada tanpa khawatir disebut sesat. Tujuan hakiki dari madzhab-madzhab ini adalah untuk melindungi akidah dan tatanan praktis (fikih) ajaran Islam. Karena itu orang-orang yang mengembangkan dan menetapkan aturan-aturan madzhab ini adalah sebuah upaya sosial besar yang melahirkan sebuah kelas dengan nama “ulama” – gelar yang tak lain bentuk jamak dari alim atau orang terpelajar, orang yang tahu ilmu.

Di masa itu merekalah yang menguasai institusi pendidikan, memiliki murid, menetapkan hukum (fikih), memengaruhi lembaga sosial. Sebuah kekuatan sosial yang cukup setara untuk menghadapi segala kepentingan politis dari penguasa yang moralnya cenderung menyimpang. Seperti si pemabuk Yazid atau anak Bayazid dari dinasti Utsmani yang moralnya hancur.

Jika Anda memiliki reputasi di bidang pengetahuan agama, anda mungkin akan diundang untuk berpartisipasi dalam pengurusan wakaf. Anda mungkin akan mengajar banyak murid, atau menjalankan institusi pendidikan. Anda mungkin bekerja sebagai hakim, dan dalam kekhalifahan, status kesarjanaan Anda juga menyebabkan pejabat tinggi datang untuk mencari nasihat Anda.

Bagaimana seseorang bisa menjadi anggota “ulama” ? Dengan mendapatkan rasa hormat dari orang-orang yang sebelumnya sudah ditetapkan sebagai ulama. Tidak ada lisensi, tidak ada sertifikat, tidak ada ijazah. “Ulama” saat itu adalah kelompok yang memilih-sendiri, mengatur diri sendiri, terikat oleh aliran doktrin yang sudah mapan.

Tak ada seorang alim pun yang mengubah alurnya. Itu sudah terlalu kuat, terlalu tua, terlalu mapan dan selain itu tidak seorang pun dapat menjadi anggota “ulama” sebelum ia menyerap sepenuhnya doktrin-doktrin tadi. Pada saat ia mempertanyakan doktrin, mereka akan terjaring keluar secara bertahap dari keanggotaannya.

Dampak dari alur seperti ini bisa terlihat dari institusi-institusi yang hari ini beredar. Pertentangan antara penganut doktrin aliran Madzhab yang lebih karena perbedaan tata nilai fiqh, bukan oleh masalah yang prinsip. Alur kelahiran dan persebaran ‘doktrin’ semacam ini yang kemudian menghasilkan sebuah kelas baru dalam dunia Islam, “ulama”. Di Indonesia dikenal juga istilah kyai atau di beberapa tempat ajengan, kyai langitan.

Mereka (ulama.red) lahir karena perkembangan zaman dan tuntutan politis dan agama. Terutama untuk mempertahankan tata praktis ajaran agama Islam. Walaupun kemudian malah menyeret kepada perpecahan secara internal umat Islam seluruh dunia. Proses perkembangan sejarah telah melahirkan ‘ulama’ dengan kelasnya yang tergolong konservatif. Apakah ulama jenis ini yang dimaksud oleh Nabi: “Ulama adalah pewaris kenabian” ?

Bersambung, Insya Allah.


One response to “Minhajul Futuhat (bagian II: Ulama)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: