Minhajul Futuhat (bagian I: Prolog)

Sebuah Awal

Disadari ataupun tidak, dunia yang terbangun hari ini dipenuhi berbagai kepentingan dan cara pandang masing-masing yang berlainan. Kepentingan yang akhirnya membangun pemikiran dan persepsi. Sejarah mengajarkan kepada kita sesuatu yang “apa adanya”. Tidak berlebihan dan tidak dikurangi, kecuali “sejarah” yang diperuntukkan bagi keberlangsungan sebuah rezim.

Lagi, bom kembali meledak (Solo.red). Kali ini sasarannya adalah tempat peribadatan, gereja. Adakah pesan yang hendak tersampaikan? Berbagai opini pun muncul. Selain daripada opini mengenai kelompok atau jaringan teroris, ada pula yang mengatakan bahwa kasus seperti ini tidak lain adalah upaya pengalihan isu.

Memang jika kita mencoba mengkaji sejarah dunia intelijen di Indonesia, setidaknya kita akan dibuat terkaget-kaget dengan data dan fakta di lapangan. Dalam salah satu hasil reportase seorang wartawan dari Australia yang mencoba mengungkap kasus bom bali, kita akan dibuat berpikir ulang tentang terorisme yang terjadi di Indonesia. Terorisme di negeri ini rumit, entah benang merah mana yang dapat kita ambil sebagai patokan. Beberapa kejadian teror nyatanya terbiayai dari uang hasil korupsi. Tapi, kali ini saya tidak akan terlalu banyak membahas masalah ini, yang jelas “persepsi” bangsa ini sudah sangat akut tentang kasus-kasus semacam ini.

Melanjutkan tulisan sebelumnya mengenai refleksi 9/11, saya ingin mencoba menggali “apa” dan “kenapa” perkembangan dunia Islam bisa sampai di sini dengan bermacam interpretasi. Jika saja kita bisa menggali akar permasalahannya, mungkin akan ada solusi-solusi yang bisa kita ambil. Dan yang lebih penting lagi adalah membangun dan menjelaskan sebuah “persepsi” bagi masyarakat bangsa ini yang cenderung ikut-ikutan. Memang kita semacam kesulitan menghadapi “penyakit” kronis yang menjalar.

Panik dan Bingung

Kebingungan. Inilah keadaan yang dialami bangsa ini, khususnya umat Islam. Kehidupannya tak ubahnya seperti kehidupan Bani Israil saat menolak masuk ke Palestina. Mereka bingung dan panik bukan main. Tuhan sedang menghukum mereka. “… Negeri itu diharamkan bagi mereka selama empat puluh tahun. Mereka berputar-putar kebingungan di muka bumi. …” (Q.S. 5:26)

Sepanjang waktu tidak henti-hentinya Bani Israil berupaya mencari jalan keluar. Tapi mereka selalu gagal. Mereka hanya menjumpai sejumput fatamorgana yang sia-sia. Mereka tidak mampu keluar dari “padang kebingungan” itu!

Sudah sejak lama generasi terbaik umat Islam secara gigih dan ikhlas mencari jalan keluar dari “padang kebingungan”. Langkah pencarian itu masih harus melewati sebuah fase, yaitu menganalisis jenis penyakit yang ada, mencari penyebabnya berikut terapi dan metode pengobatan yang sesuai. Setelah itu barulah umat Islam akan sampai kepada tingkat kesadaran yang tertinggi. Umat yang memiliki posisi istimewa di sisi Allah, sekaligus memikul beban risalah terakhir.

Sebelum kita mencapai kesimpulan jenis penyakit yang bersemayam, mari kita coba beranjak menuju masa-masa keemasan peradaban Islam di Bagdad, bahkan lebih jauh lagi, yakni saat Islam merengkuh satu kesatuan jazirah Arab. Tapi apakah yang terjadi ketika Nabi Muhammad saw. wafat? Umat Islam bertanya-tanya: “Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana kita melakukannya?”

Islam dibangun berdasarkan nilai-nilai ilahiah yang dirangkum dalam al-Qur’an. Itu sebabnya dua khalifah pertama mengumpulkan setiap potongan al-Qur’an dan khalifah ketiga menciptakan semacam edisi resmi yang berwenang dan memiliki lisensi. Namun demikian al-Qur’an tidak secara eksplisit menjawab banyak pertanyaan dalam kehidupan.

Ada bagian dari al-Qur’an yang ternyata membutuhkan interpretasi lebih. Dengan ketiadaan penafsir otoritatif al-Qur’an yakni Nabi saw. sendiri, bagaimana kita menginterpretasi kitab ini kemudian menjadi sesuatu yang dilematis hingga hari ini.

Empat khalifah awal disebut juga dengan istilah Khulafaurrasyidin. Mengapa demikian? Sebab pada periode ini proses pembumian al-Qur’an baik itu masalah hukum maupun kredo akidah berjalan dengan beriringan, terstruktur dengan sangat rapi dan tidak terjadi silang pendapat yang dapat merusak administrasi negara.

Akan tetapi masa-masa setelah itu, yang juga sering disebut sebagai masa-masa dinasti, dari Umayyah hingga Abbasiyah, bahkan hingga masa tiga dinasti (Utsmani, Safawi dan Mughol), terjadi sedikit perubahan. Memang kekuasaan dan kedaulatan Islam telah diakui oleh dunia saat itu. Namun, ternyata jika kita mendiagnosis lebih dalam, ada hal-hal yang bahkan membuat sebagian dari kita berpikir, “Benarkah Islam seperti itu?”

Perjalanan Sekilas: Lintas Sejarah

Kenyataan sejarah terkadang menyakitkan. Bayangkan saja, peralihan dinasti dari Umayyah menuju Abbasiyah penuh dengan darah. Sekali lagi, betul-betul BERDARAH! Ya, coba bayangkan anda diundang makan malam di sebuah tempat mewah, istana, tapi kemudian anda dikejutkan dengan pengantar makanan yang beralih rupa menjadi algojo-algojo bengis yang siap menebas leher anda. Sungguh mengerikan!

Kekuatan politik pada akhirnya menyeret sampai kepada perubahan persepsi teologis daripada Islam itu sendiri. Sebagaimana Syi’ah yang awalnya lahir karena ada semacam sentimen bahwa keluarga Nabi haruslah diutamakan. Tapi sentimen ini dengan sangat baik dan lihai dimanfaatkan menjadi semacam propaganda untuk mengendalikan politik di dunia Islam. Seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba yang diduga menjadi propagandis utamanya.

Tak jarang di masa-masa dinasti terjadi pergumulan berbagai macam sekte. Termasuk lahirnya tarekat-tarekat sufi yang muak dengan birokrasi dan institusi yang sudah teramat korup. Hingga nantinya dari tarekat-tarekat ini juga lahir kelompok-kelompok persaudaraan di Turki bernama Futuwwah sebagaimana reaksi gereja yang menghasilkan kesatria Templar.

Bayangkan juga pertempuran sesama ‘muslim’ yang terjadi antara dinasti Utsmani dan Safawi yang Syi’ah. Atau pertempuran antara Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan orang-orang mongol yang diragukan keislamannya. Islam dalam masa-masa ini sedikit banyak sudah mulai menceburkan diri ke dalam ide politik praktis. Hanya sebatas tunggangan politik.

Apalagi ditambah dengan tatanan moral yang semakin morat-marit. Sebagai contoh Dinasti Utsmani yang berkembang semakin korup. Mereka kebingungan karena tidak ada tambahan dana untuk menggaji para pejabatnya. Dinasti ini didera inflasi. Para pewaris tahta Utsmani pun semakin malas dan “lamban”. Belum lagi ditambah intrik perebutan kekuasaan yang terjadi antar para pewaris tahta.

Di abad 17 pedagang-pedagang Perancis, Inggris, Jerman, Belanda dan Eropa lainnya melakukan perjalanan memasuki jantung dunia Islam bukan dengan emas melainkan senapan. Dinasti Utsmani menjadi ketergantungan terhadap pedagang-pedagang barat. Sebab tanpa ekspansi alias penaklukkan di daerah perbatasan Utsmani akan kehilangan sumber pendapatan (ingat mereka tengah didera inflasi). Ketika tidak ada perang, banyak bermunculan pengangguran dan semakin membludak ketika wilayah kekuasaan Utsmani betul-betul mentok. Barat menjadi semacam “jalan keluar” bagi orang-orang dinasti Utsmani yang kebingungan ini. Pengusaha-pengusaha Eropa itu berkontribusi pada proses yang mengubah Utsmani menjadi semacam raksasa “lamban” yang dikenal juga dengan istilah “Orang Sakit Eropa”. Prosesnya memang lambat tapi terjadi secara masif dan rumit.

Akan tetapi di tengah-tengah masa penuh kemewahan dan kemegahan dunia, ternyata masih ada orang-orang yang secara kehidupan dinilai saleh, seperti Salahudin pahlawan Perang Salib, ataupun legenda dinasti Umayyah, Umar bin Abdul Azis, yang bahkan oleh beberapa ulama diajukan sebagai khulafurrasyidin ke-lima karena kezuhudan dan keadilannya. Banyak orang-orang hebat dihasilkan pada masa ini, sekalipun secara sistemik, Islam agaknya dirundung masalah yang rumit.

Di sini saya tidak ingin menghakimi siapa pun. Siapa yang benar? Siapa yang salah? Tidak, saya tidak ingin terjebak pada kerangka dan pola pikir seperti itu. Saya hanya ingin mencoba mencari di mana akar penyakit yang menyebabkan semua kejadian mengherankan itu bisa terjadi dan apa hasilnya.

Pasca Nabi wafat, terutama saat masa-masa dinasti tiba, ada tiga komponen yang membelah peradaban Islam. Tiga komponen yang muncul dari gagasan dan riwayat hadits: Iman, Islam dan Ihsan, yang terus terwariskan hingga sekarang. Ulama, filsuf dan sufi adalah komponen yang mewakili nilai-nilai tadi. Sejatinya komponen-komponen ini lahir bukan karena faktor kesengajaan. Mereka lahir karena kebutuhan di masanya. Tapi yang menjadi penting adalah komponen-komponen ini kemudian berdiri sendiri dan tidak jarang saling sikut, saling berbantah-bantahan.

bersambung, Insya Allah.


One response to “Minhajul Futuhat (bagian I: Prolog)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: