Central Inteligence Agency (CIA) dan Indonesia

Tidak diketahui secara pasti kapan pertama kali CIA mulai merapatkan dirinya ke negara Indonesia. Akan tetapi interaksi yang paling kentara antara CIA dan Indonesia terjadi pada sekitar tahun 1955-1956. Kala itu Amerika Serikat sedang getol-getolnya melakukan pembersihan benih-benih komunisme di belahan dunia ke-3 (benua Asia dan Afrika). Berbagai propaganda pun dilakukan oleh Amerika, termasuk lewat industri perfilman seperti film Rambo yang memang sengaja dibuat untuk mengusung misi Amerika di Vietnam (yang aneh adalah walaupun seorang diri tapi Stallone akhirnya menang, padahal kenyataannya Amerika kalah total oleh tentara Vietcong).

Di dalam negeri, walaupun tahun 1948 sempat meletus kudeta di Madiun dan oleh Soekarno sempat dikecam dan dituduh ‘teroris’, nyatanya tahun 1952 PKI masih mendapat tempat di parlemen. Bahkan tahun 1955 PKI masuk jajaran 4 besar dalam pemilihan umum yang katanya hingga hari ini menjadi pemilu paling bersih (walaupun datanya belum bisa diverifikasi). Entah apa yang ada dalam pikiran Soekarno dalam kurun waktu 1948-1952 hingga akhirnya mengubah kecamannya menjadi ajakan untuk duduk bersama dalam pemerintahan. Apakah ini salah satu cara berpolitik Soekarno untuk meraih dukungan lawan-lawan politiknya? Atau bahkan karena sama-sama punya agenda besar yang sama yakni: sama-sama anti-kapitalis? Hal ini nanti akan terlihat saat Indonesia keluar dari keanggotaan PBB seiring teriakan ‘ganyang Malaysia’ mulai diperkenalkan Soekarno.

Pada tahun 1953 laporan tentang pemerintahan Indonesia masuk ke dalam agenda CIA setelah Perang Korea. CIA saat itu sudah mendeteksi adanya infiltrasi komunis yang deras dalam pemerintahan Soekarno. Bahkan dalam dokumen mereka sebenarnya tahun 1955 ada rencana terselubung untuk membunuh Presiden Soekarno namun hal ini urung dilaksanakan. Agar Indonesia tidak terlampau kekiri-kirian maka CIA memanfaatkan lawan-lawan politik dari Soekarno. Tercatat sejumlah dana sebesar $ 1 juta dialirkan ke dalam partai Masyumi oleh pihak CIA pada tahun 1955. Namun CIA masih kecolongan di pemilu 1955 (PKI masih masuk jajaran 4 besar). Oleh karena itu, untuk menanggulangi hal ini sejumlah kucuran dana terus dialirkan ke dalam partai-partai politik dan juga tokoh-tokoh politik.

 “The United States should work through the Indonesia military organization to mobilize opposition to communism.”

Pada bulan September tahun 1957, Presiden Eisenhower memberikan instruksi kepada CIA untuk menjatuhkan Soekarno dari kepresidenan. Ada tiga misi utama (disalin langsung dengan teks asli):

  1. 1.       First: to provide “arms and other military aid” to “anti-Sukarno military commanders” throughout Indonesia.
  2. 2.       Second: to “strengthen the determination, will, and cohesion” of the rebel army officers on the islands of Sumatra and Sulawesi.
  3. 3.       Third: to support and “stimulate into action, singly or in unison, non- and anti-Communist elements” among political parties on the main island of Java.

Tiga hari kemudian terbitlah koran yang berada dalam pengawasan dan kontrol agen Sovyet dengan headline kontroversial: AMERICAN PLOT TO OVERTHROW SUKARNO.

Dari 3 misi utama yang dijalankan CIA, kalau dijabarkan, pertama dapat disimpulkan bahwa angkatan darat berhasil dimobilisasi dan dipersenjatai CIA. Kedua, terjadinya pemberontakan di pulau Sumatera dan Sulawesi (dikenal dengan nama: PRRI/Permesta) adalah akibat pembekalan dari CIA. Ketiga akan munculnya propaganda anti komunis secara bersama/nasional hingga dibubarkannya PKI di Indonesia.

Pada tahun 1964, CIA melalui agennya bernama Clyde Mcavoy berhasil merekrut orang Indonesia yang cukup kuat pengaruhnya, Adam Malik. Dijabarkan sbb:

Adam Malik, a forty eight-year-old disillusioned ex-Marxist who had served as Sukarno’s ambassador to Moscow and his minister of trade.

Kemudian CIA membuat suatu plot pemerintahan bayangan melalui agen barunya, Adam Malik. Kurang lebihnya sbb:

 The CIA worked to consolidate a shadow government, a troika composed of Adam Malik, the ruling sultan of central Java, and an army major general named Suharto.

Ketiga tokoh sentral inilah yang nantinya berhasil menelurkan orde baru. Orde yang sudah dipersiapkan oleh Amerika jauh-jauh hari. Duta Besar Amerika Serikat di Indonesia, Marshall Green mengatakan bahwa dirinya bertemu dengan Adam Malik dalam suatu pertemuan rahasia tentang apa yang mereka (Malik, Soeharto dan Sultan) usulkan yakni membasmi komunisme di Indonesia dengan gerakan politik yang diberi nama KAP-GESTAPU (Gerakan September 30). Dengan rancangan skema seperti itu Adam Malik mendapat bayaran sekitar Rp. 50 juta (ukuran yang cukup bergengsi saat itu). Total dana yang disumbangkan untuk KAP-GESTAPU ini bernilai $ 500.000.

“I ordered that all 14 of the walkie-talkies we had in the Embassy for emergency communications be handed over to Suharto,” Ambassador Green said.

Two weeks later, Ambassador Green and the CIA station chief in Jakarta, Hugh Tovar, began receiving secondhand reports of killings and atrocities in eastern and central Java, where thousands of people were being slaughtered by civilian shock troops with the blessings of General Suharto.

Jadilah Pulau Jawa menjadi banjir genangan darah orang-orang sipil yang tertuduh komunis entah apakah sudah terbukti atau tidak, rasa-rasanya pada masa-masa itu semua yang berbau merah dilindas. Indonesia terendam darah di bawah senyuman seringai Soeharto dan para kroni. Dan CIA memanfaatkan situasi politik di Indonesia untuk menjalankan misinya.

 The United States has denied for forty years that it had anything to do with the slaughter carried out in the name of anticommunism in Indonesia. “We didn’t create the waves,” said Marshall Green. “We only rode the waves ashore.”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: