Menelesuri Jejak Komunisme di Indonesia

Ideologi pada hakikatnya adalah sebuah cita-cita atau pencapaian ideal dalam kehidupan. Perjuangan kemerdekaan Indonesia pun tidak lepas dari peranan ideologi-ideologi yang ada. Semuanya memilki peranan dalam membentuk dan menyusun kerangka fondasi sebuah sistem hukum dan kultur dalam bangsa ini.

Terdapat tiga ideologi besar yang tersebar di Indonesia yakni: Nasionalisme, Islamisme dan Komunisme. Revolusi komunis Rusia pada tahun 1917 adalah patokan yang cukup penting dalam sejarah dunia, terutama mengenai komunis internasional. Setelah perang dunia I usai, pemahaman ini menyebar dan masuk ke hampir setiap negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Beberapa orang Belanda yang cukup terkenal dalam menyebarkan paham komunisme di Indonesia adalah Baars dan Sneevliet. Dan murid-muridnya yang terkenal di antaranya adalah: Semaun, Darsono, Alimin, Muso, Tan Malaka, dan lain-lain.

Komunis di Indonesia ternyata berbeda dengan tempat-tempat lain. Indonesia dikenal sebagai bangsa yang secara kultur budaya sangat erat dan dekat dengan Islam. Sehingga wacana ‘agama adalah candu’ yang ada dalam manifesto komunis tidak bisa diterapkan secara sempurna. Dengan demikian pemahaman komunis disebarkan dan disusupkan ke dalam organisasi-organisasi yang dinilai representatif.

Organisasi yang saat itu memiliki banyak anggota adalah Sarekat Islam, bahkan tercatat hingga jutaan. Melihat perbedaan pandangan dan pemahaman, maka pimpinan Sarekat Islam menerapkan disiplin partai untuk mencegah tersebarnya pemahaman komunis lebih jauh lagi. Terpecahlah Sarekat Islam menjadi dua aliran yang seringkali dinisbahkan dalam dua warna SI hijau untuk Islamisme atau SI merah untuk komunisme. SI merah inilah cikal bakal lahirnya Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pertentangan kelas adalah tema umum yang biasa diangkat oleh paham komunis. Doktrin yang digunakan adalah

War is the road to communist revolution – Perang sebagai jalan menuju pecahnya revolusi komunis; and to the world of dictatorship of the communist party – dan sebagai jalan terwujudnya dunia kepemimpinan diktator sistem partai komunis.

Lenin mengatakan, war is part of a whole – perang sebagai bagian dari keseluruhan. Ketika terjadi kudeta Madiun tahun 1948, Soekarno menyatakan bahwa PKI adalah teroris. Ditemukan dokumen yang berasal dari Partai Moerba (pimpinan Tan Malaka) bahwa PKI menganjurkan peningkatan perampokan, asal terorganisir. Perampokan akan mendatangkan rasa takut di masyarakat. Dampak yang ditimbulkan akibat perampokan itu adalah rakyat menjadi ketakutan dan kemudian tidak percaya lagi terhadap kepemimpinan Soekarno. Mari kita lihat analisis Vyshinsky berikut ini:

  1. Terrorism is a tool of coup d’etat – Terorisme alat kudeta.
  2. The main terroris effort is directed against the leaders of state – Upaya utama teroris diarahkan secara langsung melawan pimpinan negara.
  3. Terrorism coupled with infiltration, socio economic warfare, and defeatism – Terorisme berpasangan dengan infiltrasi, peperangan sosio ekonomi, dan upya penggagalan kesuksesan lawan dan upaya penaklukan, baik dalam sistem berpikir maupun ekspresi pembicaraan lawan.

Teori semacam ini dijalankan oleh PKI di Madiun. Rakyat Madiun tidak mengetahui bahwa pada malam 18 September 1948 terjadi penyerbuan Lasykar Pesindo bersama PDR terhadap Markas Tentara Siliwangi dan Markas Tentara lainnya. Paginya, 19 September 1948 barulah rakyat Madiun mengetahui adanya pergantian pemerintahan dan penguasa militer baru.

Bagaimana persiapan yang dilakukan oleh pihak komunis sehingga dapat melaksanakan aksinya itu? Kuncinya adalah kepiawaian orang-orang komunis yang ada dalam lingkaran kabinet pemerintahan saat itu. Amir Syarifudin, tokoh kunci kudeta tersebut adalah Menteri Pertahanan.

Dengan kedudukan politiknya itu, Amir berhasil membangun Lasykar Pesindo dari segi kekuatan militernya, baik persenjataan maupun jaminan ekonomi. Amir dan Muso melihat Indonesia tak ubahnya seperti Rusia di tengah Perang Dunia I. Revolusi di Rusia ini kemudian ditiru di tengah perang kemerdekaan, apalagi mengingat Muso yang juga baru kembali dari Rusia.

Tapi ternyata walaupun kudeta berhasil ditumpas melalui Lasykar Hizbullah yang didatangkan dari Jawa Barat, Ideologi Komunis masih tetap eksis untuk kemudian melancarkan upaya kudeta kembali pada tahun 1965. Bahkan tahun 1955 ketika terjadi Pemilu pertama di Indonesia, yang menurut banyak kalangan dinilai sebagai pemilu paling demokratis, PKI masuk ke jajaran 4 besar. Prestasi yang cukup mencengangkan mengingat peristiwa-peristiwa kudeta yang dilakukannya.

Soekarno pun tak menampik dukungannya terhadap PKI ini. Bahkan akhirnya Pancasila pun berubah menjadi Nasakom (Nasionalis, Agamis, Komunis). Pencampuran yang luar biasa janggal. Poros pemerintahan pun bergeser menjadi poros Peking, Cina. Ditambah setelah Soekarno mengeluarkan Manifesto Politik USDEK (UUD 45, Sosialisme, Demokrasi Terpimpin, Kepribadian Indonesia). Pada saat yang sama dibentuk pula Front Nasional, tujuannya adalah untuk menyelesaikan revolusi nasional dan mengembalikan Irian Barat ke RI. Namanya mirip sekali dengan Front Nasional sebagai pemerintahan baru PKI Madiun tahun 1948. Oleh karena itu, Front ini kemudian dikuasai PKI dan digunakan untuk tujuan politiknya, G30S tahun 1965.

Mengapa menghidupkan kembali Front Nasional? Apakah hal ini, sesudah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 memang disengaja menggunakan istilah Marxisme: Manifesto Politik? Bukankah Manifesto Komunis, 1848 juga berisi hal yang sama, yakni anjuran Marx agar kaum buruh berevolusi melawan kaum borjuis? Demikian pula penggunaan istilah sosialisme sebagai tahapan menuju revolusi Komunisme.

Beginilah Komunis melakukan perjuangannya. Segala macam kuda tunggangan politik yang dirasa bisa menghantarkan kemenangan akan digunakannya. Dan G30S tahun 1965 yang penuh kontroversi menjadi salah satu tahapan perjuangan bagi pihak Komunis (mungkin dalam tulisan lain saya ulas).

Pada masa Orde Baru lain lagi ceritanya. Azas tunggal Pancasila diberlakukan dengan paksa. Sehingga membuat seluruh gerakan ideologis tersedot ke dalam pusara kematian. Tidak terkecuali komunis.

Lihainya pemerintahan Orde Baru adalah dengan menyediakan tempat-tempat yang memang tujuan awalnya ingin membonsai gerakan-gerakan itu sehingga akan semakin mudah terpantau. Lahirlah dua macam partai politik yakni PPP dan PDI.

Keduanya merupakan tempat-tempat yang disediakan bagi dua macam aliran (Islam dan Komunis). Tapi tentu seluruh gerakan ideologis belajar lewat pengalaman dan kemudian Ideologi ini tersebar lewat jalan bawah tanah (clandestine). Sampai hari ini pun suka ataupun tidak ideologi Komunis itu masih ada.

Apa pengaruhnya hari ini?

Di masa reformasi yang serba ‘demokratis’, ditambah dengan akses dunia yang dipermudah, orang-orang pun akan dengan mudah mengakses berbagai ideologi. Coba saja perhatikan di toko-toko buku ataupun situs-situs internet. Isinya bebas dan berbagai pemahaman pun dapat menjamur di dalamnya. Dengan corak keislaman yang kuat yang dimiliki oleh Indonesia. Barangkali ‘komunis’ tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama (berkali-kali gagal.red) untuk memenangkan ideologinya, sehingga prosesnya pun lebih lunak. Boleh jadi lewat jalan parlementer yang bahkan saat kunjungan beberapa anggota DPR ke Banyuwangi sempat merebak isu reuni tokoh-tokoh PKI.

Dengan melihat perjalanan sejarah, wajarlah aliran/ideologi/gerakan yang berbau komunis masih berkembang dan terus berjalan hingga hari ini. Dan kalaupun masuk ke dalam ranah sistem (DPR.red) itu juga hal yang wajar. Apalagi ditambah isu politik dan keamanan yang semakin hari semakin dipenuhi oleh gonjang-ganjing. Wallahu a’lam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: