Israel, Narsisme, Sebuah Tinjauan Lintasan Sejarah dan Bangsa (1)

Secara bahasa menurut kamus besar bahasa Indonesia, narsisme mempunyai pengertian sbb:

  1. Hal atau keadaan mencintai diri sendiri
  2. Hal atau keadaan mempunyai kecenderungan (keinginan) secara seksual terhadap sendiri.

Untuk memahami mengenai narsisme, kita coba mengingat sebuah kisah yang mungkin juga sudah disadur ke berbagai bangsa dan bahasa. Yaitu cerita mengenai Raja yang mempunyai pakaian yang tidak terlihat. Seorang Raja yang sangat percaya dan boleh dibilang mencerminkan narsisme itu sendiri. Kemudian Raja itu dengan bangganya seolah-olah memakai pakaian yang tak terlihat itu. Sementara sebetulnya orang-orang yang melihat hal itu dibuat bingung dan tak percaya, Raja itu benar-benar bodoh!

Begitulah kira-kira apa yang coba digambarkan sebuah negara kecil di kawasan timur tengah yang berdiri tahun 1948 dan terus berkonflik dengan wilayah sekitar dan terus mendapat dukungan dari Amerika Serikat, yakni Israel.

Agaknya cukup tidak masuk akal ketika kita berkaca pada beberapa peristiwa yang akhir-akhir ini menarik untuk dibahas. Betapa bodohnya dunia saat ini ketika disajikan cerita dan pembenaran aksi yang dilakukan Israel dari dahulu. Mungkin masih terbayang dalam ingatan kita semua saat invasi yang dilakukan israel di jalur Gaza tahun 2008 yang menelan korban ribuan, tak terkecuali anak-anak hingga orang tua.

Untuk ke sekian kalinya dunia disuguhi aksi kebiadaban Israel yang secara brutal menembaki kapal yang dimuati rombongan relawan yang bertolak dari arah kepulauan Siprus menuju Palestina-Gaza.  Kapal tersebut membawa setidaknya 10.000 ton bantuan dan 750 aktivis kemanusiaan, juga pejabat pemerintahan sebanyak 44 orang yang berasal dari parlemen dan aktivis Eropa dan Arab.

Sejak blokade yang dilakukan Israel terhadap jalur Gaza maka terputuslah bantuan-bantuan kemanusiaan, untuk itu rombongan kapal tadi berangkat mengirimkan bantuan. Namun apa daya, Israel tetap memaksa untuk tidak membuka blokadenya dan melarang adanya kapal di sekitar kawasan tersebut. Tercatat, akibat serangan Israel tersebut sebanyak 19 orang tewas, dan juru bicara Israel, Sabine Hadad pada selasa, 1 Juni 2010, mengatakan “Sejauh ini, 83 telah ditahan, 25 di antaranya telah sepakat untuk dideportasi. Sisanya akan dipenjara”.

Sudah beberapa tahun lamanya penduduk Gaza menderita akibat blokade Israel. Gaza memang sangat bergantung pada impor makanan dan obat-obatan dari luar negeri. Lambat namun pasti, jika keadaan seperti ini terus dibiarkan, maka Israel menghendaki kebinasaan atas penduduk Gaza. Seperti biasa kecaman dunia atas tindakan Israel mengalir deras namun lenyap ditelan waktu. Bahkan liga Arab PBB menghendaki pengusutan atas terjadinya tragedi ini.

Konflik Berkepanjangan, Apa yang Dicari?

Jika kita coba menilik sejarah berdirinya Negara Israel, maka kita harus melihat seorang Theodor Herzl. Dia mengatakan bahwa solusi bagi bangsa Yahudi adalah dengan membangun Negara Yahudi yang dia terbitkan dalam sebuah buku pada tahun 1890. Satu-satunya tempat yang memungkinkan menurutnya adalah jika berada di Palestina. Tapi tunggu dulu ada apa gerangan dengan Palestina?

Selama 2000 tahun bangsa Yahudi berbicara tentang kembali ke ‘tanah yang dijanjikan’. Saat itu tak seorang pun menangkap secara harfiah. Dan memang terdapat pertentangan tentang masalah ini di kalangan Yahudi sendiri. Organisasi keagamaan Yahudi, Neturei Karta, masih mempercayai akan datangnya seorang messiah yang keberadaannya menjadi tanda apakah Yahudi akan kembali ke ‘tanah yang dijanjikan’ atau tidak.

Memang dari sejarah panjangnya bangsa Yahudi berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Dan hampir setiap tempat berakhir dalam sebuah konflik. Dari mulai perjalanan Mesir, lalu kerajaan Israel Kuno hingga hancurnya, kemudian zaman Yunani, Helenisme, tersambung ke Persia dan kemudian Romawi. Artinya sebagai sebuah ras, Yahudi berada hampir di seluruh belahan bumi.

Kita coba melihat lebih dekat kepada detik-detik kelahiran Negara Israel

Sekitar 20.000 orang Yahudi memasuki Palestina di akhir abad ke-19 (inilah yang barangkali disebut zionis pertama). Terminologi untuk migrasi ini adalah aliya pertama. Secara khusus mereka lari dari kejaran Rusia dan Rumania yang mengejar mereka. Setelah adanya publikasi secara resmi Negara Yahudi oleh Herzl pada tahun 1896, zionis bertambah serius. Segera setelah Herzl didaulat menjadi presiden kongres Zionis dunia, Dia kemudian menghadap Sultan Turki untuk meminta Palestina dan akhirnya tidak berhasil.

Migrasi berikutnya, aliya kedua, terjadi pada tahun 1905. Secara umum ini menindaklanjuti Revolusi yang terjadi di Rusia. Sebagian mengarahkan langkahnya menuju Amerika, namun pemerintahan di sana membatasi jumlah imigran. Sehingga sebagian dari Yahudi menuju Palestina, karena mereka mengetahui bahwa muslim lebih beradab dalam memperlakukan tamu, Yahudi, ketimbang kristen saat itu.

Dan selama beberapa tahun ke depan di bangsa-bangsa Arab memang terjadi polemik akibat penjajahan bangsa barat. Jadi pada saat itu bangsa barat pun memberikan jaminan kemerdekaan bagi daerah-daerah jajahannya. Dengan situasi yang kompleks ini kemudian seorang Yahudi bernama Chaim Weizman membujuk Lord Balfour dari Inggris. Hasilnya adalah “Deklarasi Balfour” pada tahun 1917. Deklarasi ini secara tidak langsung jika dibaca adalah sebuah kehendak dari bangsa Yahudi untuk mendirikan Negara Yahudi secara berdaulat.

Epilog

Mungkin apa yang menjadi sebuah obsesi dari sebuah entitas bangsa yang bernama Yahudi atau sekarang dalam negara yang bernama Israel adalah hasrat untuk terus mendendam. Sebab dari sejarahnya saja penuh tipu daya dan terus dikejar-kejar sampai akhirnya ke seluruh belahan dunia. Hampir tiap kebudayaan disinggahi. Bahkan oleh beberapa sekte atau organisasi Yahudi kebudayaan-kebudayaan itu dianggap sebagai rantai yang hilang dari cabang Kabbalah (mistisme dan okultisme bangsa Yahudi, lain waktu saya terangkan). Bahasa sekarang disebut sebagai ‘kearifan lokal budaya masa lalu’. Melalui simbol-simbol ini pulalah Yahudi sebagai sebuah eksistensi bangsa mencoba tampil.

Lihat saja diplomasi politik yang dilakukan oleh Yahudi. Tak pernah usai! Semenjak berdirinya tahun 1948, kemudian perang yang meletus tahun 1967 hingga saat ini, Israel selalu dikenal sebagai negara yang khianat. Berapa janji yang sudah dirusaknya? Bahkan janji-janji itu digunakan sebagai dalih strategi saja. Barangkali inilah yang oleh Kitab Suci al-Qur’an sering digambarkan bahwa bangsa bani Israil sering melanggar janji dan membuat nabi Musa pusing.

Sejarah lahirnya Israel pun pada hakekatnya menunjukkan kepada dunia bahwa mereka ada dimana-mana. Israel nyata-nyata memperlihatkan sikap narsistik yang kelewat batas. Korban-korban berjatuhan seolah tak ada harganya yang oleh beberapa gerakan Yahudi dijadikan alasan sebagai tumbal demi tercapainya tujuan (beberapa ritual Yahudi ada yang mengharuskan demikian), dari mulai bangsa Aztec sampai ke pulau Jawa ternyata mengenal istilah ini (tumbal.red). Apakah Yahudi ada di antara kita?

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: